Beranda > PENDIDIKAN > ANTARA ILMU DAN SENI

ANTARA ILMU DAN SENI

Mengajar  dapat dipandang sebagai seni dan ilmu, mengapa?

Mengajar merupakan sebuah seni dan ilmu karena untuk menjadi seorang guru/dosen dibutuhkan keahlian khusus, ia membutuhkan beberapa keterampilan dan persiapan dalam bentuk pendidikan bermutu, guru/dosen harus menguasi ilmu pengetahuan dimana mereka akan menjadi perantaranya sehingga siswa/mahasiswa tidak hanya mempelajari pengetahuan mentah, tapi juga belajar bagaimana menerapkan dan menghubungkan pengetahuan itu dalam kehidupannya. Selain itu mengajar memerlukan hati, semangat dan rasa cinta terhadap bahan yang diajarkan serta murid yang dididiknya, dan juga kecintaan serta semangat yang terus menerus pada bidang pendidikan, yang berarti juga tekad untuk belajar sepanjang hayat dan ada keinginan untuk membuat siswa/mahasiswa belajar dengan senang dan mencapai keberhasilan, karena pendidikan yang berhasil adalah apabila para murid mendapatkan ilmu pengetahuan dan bisa mengembangkan pengetahuan melebihi gurunya/dosennya.

Kemudian bahwa mengajar itu adalah seni dan ilmu karena tidak ada proses mengajar tanpa belajar (Freire dalam Pedagogy of Freedom, Ethics, Democracy, and Civic Courage) menurutnya ada 7 (tujuh) prinsip yang mendasarinya masing-masing adalah:

  1. Mengajar bukanlah sekedar proses mengalihkan pengetahuan melainkan proses untuk menciptakan kemungkinan-kemungkinan bagi produksi dan konstruksi pengetahuan (baru). Karenanya,
  2. Mengajar bukan hanya menyediakan muatannya tapi juga mengajak pelajar berfikir dengan tepat, yaitu suatu kemampuan untuk tidak terlalu merasa yakin akan kepastian atau kesangsian yang niscaya. Karenanya pula,
  3. Pengajaran tidak akan pernah mengembangkan sebuah prespektif yang benar-benar kritis kalau hanya menuruti kehendak hapalan mekanis atau pengulangan irama ritmis dari partitur dan ide-ide dengan mengorbankan tantangan kreatif.
  4. Meski guru/dosen dan siswa/mahasiswa tidaklah sama, yang pertama dibentuk atau dibentuk ulang oleh proses mengajar, dan pada saat bersamaan pelajar membentuk dirinya sendiri pula.
  5. Untuk itu pengajar perlu memperkenalkan pelajar pada apa yang disebut sebagai keketatan metodologis, yaitu sesuatu yang dapat membuat pengetahuan umum menjadi sesuatu yang bermakna, demi munculnya pengetahuan yang otentik dan keingintahuan yang terus-menerus yang tumbuh dari kesangisan-kesangsian yang niscaya tadi. Sebab itu,
  6. Tidak ada pengajaran tanpa penelitian dan penelitian tanpa pengajaran, karena saat proses mengajar berlangsung, pada saat yang sama si pengajar mencari sesuatu, karena ia memang selalu harus bertanya, sebagai konsekwensi dari penyerahan diri pada keniscayaan kesangsian.
  7. Proses pengajaran harus menghormati apa yang diketahui murid karena praksis mengajar tidak bisa menghindar dari tuntutan pelajar akan pengakuan atas kemampuannya, keingintahuannya, dan otonomi pelajar itu sendiri. Selain itu harus juga menghargai pengetahuan rakyat, yaitu pengetahuan sosial yang dibangun dalam praksis kehidupan masyarakat sehari-hari.
Kategori:PENDIDIKAN
  1. mustika
    Juli 5, 2011 pukul 6:59 pm

    thank’s a lot pak,, berguna sekali…

  2. April 5, 2014 pukul 10:06 am

    Reblogged this on linokisobri and commented:
    oke

  3. September 26, 2014 pukul 3:44 pm

    Hi, all is going well here and ofcourse every one is sharing data,
    that’s in fact good, keep up writing.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: